Poin Penilaian Psikotes Grafis

1 bulan, 1 minggu yang lalu

TES GRAFIS SEBAGAI ALAT PSIKODIAGNOSTIK

Pendahuluan
Dalam  dekade  terakhir, pemeriksaan  psikologi mempunyai  pengaruh  besar  pada kehidupan manusia  Indonesia. Kebanyakan dari mereka yang bersekolah, masuk perguruan  tinggi,  melamar  pekerjaan,  ikut  seleksi  untuk  menduduki  jabatan tertentu,  pernah mengikuti  suatu  pemeriksaan  psikologi.  Pemeriksaan  psikologi yang mereka jalani tidak selalu sama, tergantung dari tujuan pemeriksaan dan alat pemeriksaan yang digunakanpun berlainan. Misalnya siswa Taman Kanak-kanak menjalani  pemeriksaan  psikologi  agar  dapat  diketahui  kesiapan  anak  untuk mengikuti  pelajaran  di  Sekolah.  Tes  yang  berbeda  dipakai  untuk  siswa  kelas  I Sekolah  Menengah  Umum  yang  bertujuan  untuk  menentukan  apakah  yang bersangkutan lebih sesuai untuk jurusan A1, A2, A3 atau A4.
Dengan semakin meningkatnya penggunaan jasa psikologi dalam berbagai bidang, maka  tidaklah  mengherankan  apabila  muncul  banyak  biro  psikologi  dan meningkatnya  peminat  untuk  mengikuti  pendidikan  psikologi  karena  psikologi kini  dianggap  sebagai  lahan  yang  dapat  memberikan  penghasilan  yang  layak. Untuk  berbicara  lebih  jauh  tentang  psikologi  dan  tes  psikologi,  kita  perlu meninjau sejarahnya. Sebenarnya psikologi sebagai suatu ilmu baru berkembang di abad ke 19 di Eropa,
walaupun sudah sejak  jaman dulu Plato dan Aristo  telah menulis  tentang adanya perbedaan-perbedaan  individual.  Para  ilmuan  Jerman-lah  yang  mulai mengembangkan  ilmu  psikologi  pada  akhir  abad  19,  yaitu  Fechner,  Wundt, Ebbinghaus  dan  sebagainya.  Penelitian-penelitian  yang  dilakukan  para  psikiater dan  psikolog  perancis  di  bidang  gangguan-gangguan  mental  mempengaruhi perkembangan  tehnik-tehnik  assessment  Klinis  dan  tes  dan  ini  berakibat  pada pengembangan tes prestasi dan skala psikologi yang dibakukan. Ilmuan  lainnya  yang  terlibat  dalam  pengembangan  alat  ukur  psikologi  yang dianggap  menonjol  pada  jaman  itu  adalah  Galton  dari  Inggris,  Cattell  dari Amerika dan Binet dari Perancis. Pionir  lainnya  adalah  Spearman  yang  mengembangkan  teori  tes,  Terman  yang mengembangkan  tes  kecerdasan  sedangkan  Woodworth  dan  Rorschach mengembangkan  tes  kepribadian.  Edward  Strong  berkecimpung  dalam pengembangan tes minat. Dengan  terjadinya  Perang  Dunia  I,  sekelompok  psikolog  di  Amerika  Serikat mengembangkan  tes  untuk  mengukur  kemampuan  mental,  khususnya  tes inteligensi untuk ribuan  tentara Amerika selama Perang Dunia I dan sesudahnya. Tes  ini  dikenal  dengan Army Alpha  untuk  yang  berpendidikan  dan Army Beta
untuk  yang  tidak  berpendidikan.  Tes  yang  dikembangkan  Woodworth  adalah inventori  kepribadian  yang  pertama  dibakukan  dan  digunakan  dalam  seleksi tentara, dikenal sebagai Personal Data Sheet. Sejak  tahun 1920-an bidang  testing psikologi berkembang dengan pesat dan kini
ratusan  tes  psikologi  dibuat  dan  dijual,  terutama  di  negara-negara  barat. Untuk mengetahui  tes  apa  saja  dan  apa  tujuan  tes  tersebut,  dapat  ditelusuri  melalui berbagai  katalog  yang  diterbitkan  instansi-instansi  penjual  tes.  Makalah  ini memberikan  sedikit  gambaran  tentang  tes  psikologi  terutama  tes  grafis  yang banyak dipakai dalam pemeriksaan psikologi di Indonesia. Klasifikasi Tes Apabila  kita  ingin  menggunakan  suatu  tes  tertentu,  perlu  diketahui  secara mendalam tes tersebut, yaitu:
-  Tujuan tes tersebut
-  Tes dapat diberikan secara individual atau kelompok
-  Standardisasi tes : norma, validitas, reliabilitas
-  Tes obyektif atau non-obyektif
-  Administrasi tes
-  Latar belakang teoretik tes tersebut
-  Apakah tes sesuai untuk digunakan di Indonesia
Tanpa  penguasaan  yang mendalam  tentang  tes  yang  digunakan  disamping  latar belakang  teoretik  (psikodinamika)  yang memadai, maka  hasil  tes  berupa  angka atau  grafik  dan  sebagainya  tidak  akan  bermanfaat  banyak,  bahkan  ada kemungkinan  terjadinya  kesalahan  dalam  analisis  sehingga  akan  merugikan  si pemakai jasa. Ratusan  tes  psikologi  yang  kini  diperjual-belikan  dapat  dimasukkan  dalam kelompok-kelompok menurut tujuan atau sifatnya.

1.  Tes Individual dan tes kelompok Tes  individual  adalah  tes  yang  diberikan  perorangan  yaitu  tester
berhadapan  dengan  testee,  misalnya  tes  Rorschach,  Stanford  Binet
Intelligence Test dan Wechsler Bellevue Intelligence Scale. Tes kelompok
diberikan  tester  pada  sekelompok  testee, misalnya  Progressive Matricee-
60 dari Raven dan Tes Kode.
2.  Sekelompok  Speed &  Power  test,  yang  didasarkan  atas  batas waktu  tes.
Speed  test  terdiri dari banyak  soal yang mudah  akan  tetapi waktu  sangat
dibatasi  sehingga hampir  tidak  ada  yang  selesai  dalam batas waktu  yang
diberikan. Sedangkan power  test adalah kebalikan dari speed  test. Tes  ini
terdiri dari banyak item yang sukar.
3.  Kelompok  tes  obyektif  dan  non-obyektif,  yang  didasarkan  atas  sistem
penilaian. Suatu  tes obyektif mempunyai  standar penilaian yang obyektif
yang  sudah  ditentukan.  Seorang  bukan  psikologpun  dapat  melakukan
penilaian tetapi tidak dapat melakukan interpretasi. Sebaliknya, melakukan
penilaian terhadap  tes  essay  dan  berbagai  macam  tes  kepribadian
seringkali  bersifat  subyektif  dan  2  orang  penilai  akan memberikan  hasil
yang mungkin berbeda.
4.  Klasifikasi  lain yang disesuaikan dengan  isi atau proses adalah kelompok
tes kognitif dan tes afektif. Tes kognitif mengukur proses-proses dan hasil
kemampuan mental  (kognisi)  dan  seringkali  disebut  sebagai  tes  prestasi
dan bakat. Suatu tes prestasi menjaring pengetahuan subyek tentang topik
tertentu dan  terfokus pada perilaku yang telah lalu, yaitu apa yang pernah dipelajari dan dicapai. Bedanya dengan  tes bakat  adalah bahwa  tes bakat
memusatkannya pada perilaku yang akan datang yaitu kemampuan subyek
untuk  belajar  dengan  latihan  yang  sesuai.  Misalnya  :  tes  untuk  bakat
mekanis  dan  klerikal  dikembangkan  untuk menarik manfaat  dari  latihan
lebih  lanjut  dalam  tugas-tugas  mekanis  dan  klerikal.  Tetapi  sebenarnya
prestasi  dan  bakat  tidak  dapat  dipisahkan  karena  apa  yang  telah  dicapai
seseorang  di masa  lalu  biasanya merupakan  indikator  cukup  baik  untuk
sesuatu yang diharapkan di masa mendatang.
Berbeda  dengan  kelompok  diatas  adalah  kelompok  tes  afektif  yang
dirancang untuk menjaring minat, sikap, nilai, motif, ciri-ciri  temperamen
dan aspek-aspek non-kognitif dari kepribadian. Berbagai tehnik diciptakan
untuk  menjaring  tujuan  ini,  misalnya  observasi  perilaku,  inventori  dan
tehnik proyektif.
Istilah  proyeksi  diperkenalkan  Lawrence  Frank  (1939)  untuk  rangsang-
rangsang  yang  tidak  jelas  dan  terhadap  rangsang-rangsang  inilah  subyek
memproyeksikan kebutuhan dan keadaan dalam dirinya. Tehnik proyeksi
biasanya  terdiri  dari  rangsang  yang  tidak  terlalu  berstruktur  dan  subyek
diminta  untuk  memberi  tanggapan  terhadap  rangsang-rangsang  yang
diajukan. Justru karena tes proyeksi tidak terlalu berstruktur dalam isi dan
terbuka  untuk  jawaban-jawaban  subyek  maka  jawaban-jawaban
mencerminkan  persepsi  subyek  tentang  lingkungannya.  Ini  juga  berarti
bahwa  semakin  tidak  terstrukturnya  tugas,  semakin  besar  kemungkinan bahwa  jawaban-jawaban  yang  diberikan  subyek mengandung  faset-faset
penting  dari  kepribadian  subyek. Menurut  para  penganjur  tehnik  ini,  tes
proyeksi  dapat  menjangkau  lapisan-lapisan  yang  lebih  dalam  dari
kepribadian,  yaitu  yang  tidak  disadari  subyek.  Namun  kekurangan  dari
tehnik inipun ada, yaitu:
1.  Tidak se-obyektif dan seakurat tes kognitif
2.  Tidak  terstrukturnya  rangsang  memberi  kesulitan  dalam
membuat penilaian
3.  Akibat  masalah  penilaian,  kebanyakan  tehnik  proyeksi  tidak
memenuhi standar konvensional dari validitas dan reliabilitas
Untuk  mengatasi  penilaian yang  ”kurang  tepat”  terhadap  hasil  tes
proyektif,  dibutuhkan  banyak  latihan  dan  kepekaan  psikolog. Disamping
itu diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang psikoanalisa dan teori-
teori  psikodinamik  lainnya  yang menjadi  latar  belakang  kebanyakan  tes-
tes  proyeksi.  Salah  satu  kelompok  tes  proyeksi  adalah  tes  grafis  yang
dibicarakan berikut ini

Tes Grafis
Tehnik  proyeksi  yang  dipakai  tes  grafis  ini  seringkali  disebut  sebagai  tehnik ekspresif. Yang banyak dikenal dan banyak dipakai oleh para psikolog Indonesia adalah:
-  Gambar Orang (Graw a Person Test) -  Gambar Pohon (Draw a tree Test)
-  Tes Wartegg
Tes grafis disebut  juga  sebagai paper and pencil  test karena hanya melibatkan 2 bahan  tersebut  dan  dianggap  sebagai  tes  yang  sederhana  dan murah.  Sederhana karena  tugas  yang  diberikan  tidak  rumit, mudah  dimengerti    subyek  dan waktu pengerjaan  tidak  lama. Murah  karena  hanya  melibatkan  beberapa  lembar  kerja HVS 70gr ukuran A4 dan sebatang pinsil HB.
1.  Gambar Orang (Draw a Person Test)
Ada  beberapa  versi  dari  Tes Gambar Orang,  yaitu  versi Goodenough  yang
biasanya  dipakai  untuk  memperoleh  nilai  I.Q  Versi  ini  kemudian
dikembangkan  Harris  sehingga  dikenal  sebagai  Draw  a  Person  Tes  versi
Goodenough-Harris.  Apabila  pada  versi  Goodenough  subyek  hanya
menggambar 1 figur saja maka pada versi Goodenough Harris, subyek diminta untuk menggambar  3  figur,  yaitu  f igur  laki,  perempuan  dan  figur  diri.  Pada dua  tes  ini,  figur  yang  digambar  diberikan  penilaian kuantitatif,  misalnya kepala  diperoleh  nilai  :  1; mata  diberi  nilai  1;    ada  pupil  diberi  nilai  1  dan seterusnya  sehingga  diperoleh  skor  total.  Skor  total  ini  masih  diolah  lebih lanjut sehingga akhirnya memunculkan nilai IQ.
Berbeda  dengan  yang  disebut  diatas  adalah  versi  Machover  yang  tidak
memberikan penilaian kuantitatif tetapi kualitatif. Versi Machover ini dilandasi teori Psikoanalisa. Figur manusia  yang  digambar  dianggap  sebagai  persepsi  si  penggambar tentang dirinya  dan bayangan  tubuhnya. Walaupun  gambar-gambar  yang dibuat  subyek  biasanya merupakan  bayangan  tubuh  dan  konsep  dirinya, tetapi  perubahan-perubahan  dalam  sikap  dan  suasana  hati  karena  situasi juga dinyatakan disini. Seringkali  dipertanyakan,  mengapa  figur  manusia  yang  digambar  dan bukan figur  lain? Jawabannya adalah sebagai berikut, yaitu figur manusia adalah yang paling dikenal, yang paling dekat dengan dirinya sehingga  ia dapat  menggambar berdasarkan pengalaman-pengalamannya. Administrasi  tes  tidaklah  sukar.  Persyaratan  untuk  tes  adalah  2  lembar
kertas HVS  70 mgr  ukuran A4  dan  1  pinsil HB,  penghapus.  Perhatikan
agar  tidak menggunakan  alas  karton  atau  buku. Alas  untuk menggambar
harus keras dan licin
Instruksi adalah : Gambarlah orang
Apabila  subyek  sudah  selesai  dengan  gambarnya, maka  diberikan  kertas
lain lalu diberi instruksi:
”Sekarang  gambarlah  figur  dengan  jenis  kelamin  lain  dari  yang  tadi
digambar”
Selama  subyek mengerjakan  tes,  tester membuat observasi  dan mencatat
semua  pernyataan  verbal  subyek,  komentar  yang  diberikan,  cara  ia
menggambar,  figur  dengan  jenis  kelamin  mana  yang  digambar  terlebih
dahulu, berapa lama ia menggambar? Setelah  subyek  selesai  menggambar,  tester  melakukan  asosiasi,  yaitu
meminta subyek untuk membuat cerita tentang figur yang digambarnya.
Dalam  tes kelompok, sukar membuat asosiasi karena waktu yang  tersedia
terbatas.  Disamping  itu  hanya  1  figur  saja  yang  digambar.  Waktu
pelaksanaan dalam tes kelompok juga dibatasi, yaitu 10 menit.
Prinsip interpretasi.
Pada  waktu  kita  menghadapi  lembar  kertas  dengan  hasil  karya  subyek
berupa figur manusia, maka seolah-olah kita berhadapan langsung dengan
si  penggambarnya.  Kita  akan  mendapat  kesan  pertama  tentang  gambar
tersebut.  Dalam  analisis  selanjutnya,  kita  berpegang  pada  3  hal  yaitu  :
ruang ; gerak dan bentuk.
Ruang adalah  :  Posisi  figur  diatas  kertas,  apakah  ditempatkan  ditengah,
kiri, kanan, atas atau bawah?
Gerak adalah  : Bagaimana pinsil diatas kertas bergerak membentuk figur
manusia.  Ini  mencakup  tenakan  pinsil,  cara  subyek
membuat garis dan bayangan.
Bentuk adalah : Bagaimana proporsi  figur,  apa  yang digambar,  elaborasi,
detail, distorsi, ada yang  tidak digambar dan  sebagainya.
Disamping  itu  masih  perlu  dipertimbangkan  fungsi anggota  tubuh  yang  mendapat  penekanan.  Penekanan dapat  berupa  tambahan  shading,  hapusan,  berulangkali diperbaiki, dipertebal, garis pada bagian  tertentu berbeda dengan  garis  secara  keseluruhan,  lebih  mendetail  dan sebagainya.  Adanya  anggota  tubuh  yang  tidak digambarpun perlu ditertimbangkan. Penekanan dibagian tertentu dari  figur manusia menunjukkan  adanya  konflik pada bagian tersebut dan karena itu perlu diketahui fungsi dari berbagai bagian/organ tubuh. Kepala   :   Dianggap  sebagai  tempat  kegiatan  intelek  dan  fantasi  dan diasosiasikan  dengan  kontrol  impuls  dan  emosi,  kebutuhan sosialisasi  dan  komunikasi. Maka  dikatakan  bahwa  orang  yangmenarik  diri,  neurotik  tidak  memberi  banyak  perhatian  pada kepala. Bagian-bagian  kepala  berfungsi  sebagai  sumber  utama  dari kepuasan  dan  ketidak  puasan  sensoris  disamping  sebagai  alat komunikasi.  Mata,  telinga  dan  mulut  merupakan  organ  yang
diperlukan  dalam  berhubungan  dengan  lingkungan,  sehingga perlakuan  yang  berlebihan  menunjukkan  kemungkinan kecemasan yang berhubungan dengan fungsi-fungsi organ-organ tersebut.
Leher  :  Leher  merupakan  penghubung  antara  kepala  dan  badan,
merupakan  penghubung,  dalam  bahasa  psikoanalisis  antara
super-ego,  ratio,  dan  id,  impuls,  dorongan. Pada  umumnya  bila
leher  mendapat  penekanan  maka  menunjukkan  kemungkinan pemikiran  subyek  mengenai  kebutuhannya  untuk  mengontrol
impuls-impuls yang dirasakannya mengancam.
Badan  :   Badan,  khususnya  ”trunk”  diasosiasikan  dengan  dorongan-
dorongan  dasar. Subyek  biasanya  cenderung menggambar  figur
yang  mirip  dengan  keadaan  tubuhnya  sendiri.  Anak  seringkali
menggambar  ”trunk”  secara  sederhana,  persegi-empat  atau
lonjong. Tidak  adanya bagian  tubuh yang penting  (kecuali pada
anak)  menunjukkan  kemungkinan  gangguan  psikologis  yang
serius.
Bahu  :  Perlakuan  terhadap  bahu  dianggap  sebagai  pernyataan  dari
perasaan  kebutuhan  akan  kekuatan  fisik.  Orang  normal  akan
menggambar  bahu  dengan  jelas  sedangkan  orang  dengan  rasa
rendah diri karena  fisik yang kurus dan kecil akan menggambar
figur  dengan  sebelah  bahu  lebar.  Tidak  adanya  bahu  terkadang
dikatakan  sebagai  kemungkinan  skizofreni  atau  kondisi
kerusakan otak.
Lengan dan tangan:
Kondisi  lengan  dan  penempatannya,  yaitu  menjauh  dari  tubuh
atau melekat pada  tubuh menunjukkan hubungan subyek dengan
lingkungannya. Maka  lengan yang ditaruh dipunggung  sehingga
hanya  sebagian  saja  yang  tampak,  menunjukkan  keengganan
subyek  untuk  berhubungan  dengan  orang.  Tangan  yang dimasukkan  ke  dalam  saku,  atau  tangan  yang  tidak  tampak,
diassosiasikan  dengan  konflik  dan  perasaan-perasaan  bersalah
yang berhubungan dengan kegiatan tangan tersebut.
Tungkai kaki dan kaki:
Figur  dengan  perlakuan  tidak  biasa  terhadap  kaki  atau  tungkai
kaki  berhubungan  dengan  perasaan  aman  atau  tidak  aman.
Tungkai kaki merupakan serana bergerak dan perlakuan terhadap
bagian  ini  mencerminkan  perasaan  seseorang  mengenai
mobilitas.
2.  Gambar Pohon
Gambar pohon dikembangkan oleh Karl Koch
Administrasi tes:
Persyaratan  : Kertas HVS 70mgr ukuran A4, pinsil HB,  tidak pakai penghapus,
alas  menggambar  harus  licin  dan  keras,  waktu  tidak  dibatasi  (kecuali  tes
kelompok)
Instruksi : ”Gambarlah pohon”
”Kecuali : pohon cemara, randu, kelompok palma, bambu”
Apabila ada kesan bahwa gambar yang dibuat tidak memenuhi persyaratan, maka
subyek diberi kertas baru dan diberi  instruksi: ”Gambarlah pohon  lain dari yang
telah anda gambar”.
Seringkali  muncul  pertanyaan  :  Mengapa  justru  gambar  pohon?  Apabila  kita
melihat tanaman yang mempunyai sistem terbuka yaitu dengan pertumbuhan yang menuju keluar,  segala  sesuatu  terjadi di permukaan, dibentuk dibawah kulit dan
ujung-ujung  tunasnya.  Hanya  pohon  yang  memperlihatkan  hal  ini.  Maka
dikatakan  bahwa  ”Keberadaan”  tanaman  adalah  gerakan  hidup  keluar,  usaha
menjauhi  zone pertumbuhan pusat. Pohon  tidak  pernah berhenti berkembang,  ia
tumbuh  sempurna,  selalu muda-berbunga berbuah  sampai mati. Berbeda dengan
manusia  atau  binatang  yang  merupakan  sistem  yang  tertutup.  Hidup  fisik
diarahkan kedalam. Semua organ  sudah  ada  sejak  awal dan dalam  tubuh  semua
organ  diberi makanan  (darah)  oleh  kekuatan  yang  sama,  seumur  hidup.  Dalam
eksistensi  manusia  segala  sesuatu  bergerak  ke  dalam  dan  dikendalikan  organ-
organ pusat. Gambar pohon yang dibuat manusia merupakan sekresi dari yang ada
di dalam. Gerak keluar menjadi bentuk yang menyerupai manusia, namun dengan
sifat-sifat  yang  berbeda  dalam  ”inner  being”nya.  Ini  yang  dikatakan  sebagai
proyeksi dari psyche.
Prinsip interpretasi.
Sama halnya dengan  tes gambar orang, pada waktu kita menghadapi hasil karya
subyek,  maka  seolah-olah  kita  berhadapan  dengan  subyek.  Bagaimana  kesan
pertama yang kita peroleh? Juga dalam analisis selanjutnya kita berpegang pada 3
hal, yaitu : ruang, gerak dan bentuk (lihat halaman 7).
Dengan  bentuk  tentunya  bukan  lagi  proporsi  figur,  akan  tetapi  proporsi  pohon,
bagaimana perimbangan antara mahkota dan batang? Kemudian dilihat pohon apa
yang  digambar  dan  apa  yang  digambar.  Kadang-kadang  ada  pohon  yang  tidak lengkap,  yang  dapat  disebabkan  beberapa  hal  yaitu:  belum  selesai,  artinya  ada
pembelokan tidak dapat diselesaikan, berarti adanya hambatan.
Dalam  membuat  analisis,  harus  dilihat  terlebih  dahulu:  usia  si  penggambar,
sesuaikah untuk usianya dan bila tidak? Kemudian perlu diketahui pendidikan dan
dari mana subyek berasal. Ini perlu diketahui karena bila pada orang dewasa ada
sekelompok  ciri  yang  biasa  ditemukan  pada  tahap  usia  yang  lebih  muda  yang
dapat  dikatakan  normal  untuk  tahap  usia  tersebut  maka  ada  beberapa
kemungkinan  yang  perlu  dipertimbangkan  yaitu  retardasi  perkembangan,
manifestasi keadaan-keadaan infantil atau regresi.
Untuk  dapat  menentukan  salah  satu  kemungkinan  diperlukan  pengalaman  dan
membandingkan berbagai gambar pohon dari berbagai kelompok usia.
Selanjutnya dilihat bagaimana subyek menggambar bagian-bagian pohon, yaitu:
Akar  :  Berfungsi  untuk menghisap makanan  dan  berpegangan  pada  tanah  agar
tidak tumbang. Akar dapat digambar dengan 2 cara, yaitu akar 1 garis dan akar 2
garis.  Akar  1  garis  biasanya  dibuat  anak  sedangkan  akar  2  garis  dibuat  orang
dewasa. Namun akar 2 garis dapat dibuat sebagai akar tertutup dan akar terbuka.
Pangkal batang  : Dapat digambar  lebar di kiri dan kanan,  sebelah kiri  saja  lebih
lebar  atau  sebelah  kanan  saja  lebih  lebar.  Pelebaran  ke  kiri  atau  ke  kanan  atau
pada bagian kiri dan kanan berarti adanya inhibisi/hambatan.
Batang pohon  : dapat digambar dengan 1 garis dan 2 garis. Ada berbagai bentuk
batang, misalnya batang bentuk kerucut yang biasa digambar anak sekitar usia 8-9
tahun, anak debil atau orang dewasa yang mengalami  regresi. Batang dapat pula dibuat dengan 2 garis lurus paralel, batang yang bergelombang serasi atau batang
yang  menggelembung,  jadi  ada  penebalan  dan  konstriksi.  Penebalan  berarti
penimbunan  sedangkan  konstriksi berarti hambatan,  jadi  apa  yang ditimbun dan
apa yang dihambat?
Apabila  kita  kembali  pada  simbolik  batang  yairu  energi,  dorongan,  maka
penimbunan dapat berarti energi. Permukaan batang:
Secara fisiognomis, permukaan batang berarti ke arah hubungan  individu dengan
lingkungan  secara  emosional  dan  afektif,  yaitu  bagaimana  individu
lingkungannya. Ini berarti penyesuaian diri, kehidupan afek, defense mechanisme
diri. Penampilan coretan tajam dan berkesan keras dapat diartikan sebagai berikut
: sesuatu yang keras biasanya tahan pukulan tetapi pukulan yang keras sekali akan
mengakibatkan  patah.  Jadi  sifat  yang  keras  dan  sikap  yang  keras  bila  terlalu
ditekan, akan patah. Coretan yang begolombang menunjukkan sikap kontak yang
emosional, artinya perasaan memegang peranan penting sedangkan coretan dalam
bentuk noda-noda  yang  tampak  seperti penyakit kulit. Melambangkan  gangguan
dan kontak dengan sesama manusia
Bayangan,  merupakan  pengisian  kertas  dengan  psinsip  supaya  lebih  gelap  dan
dapat  diartikan  bahwa  ada  perose  emosional  pada  yang  bersangkutan.  Perlu
diberhatikan berat-ringannya  bayangan yang dibuat, karena bayangan yang dibuat
sengan halus,  ringan menunjukkan kepekaan  sipenggambar  sedangkan bayangan
yang gelap dan berat lebih menunjukan adanya kecemasan. Dahan,  seperti  akar  dan  batang  dapat  dibuat  dengan  1  garis  maupun  2  garis.
Dahan  yang dipotog dapat diartikan bahwa dalam perkembangan  terjadi  sesuatu
yang menyangkit segi psikis. Dahan yang dibuat seperti pipa, yaitu  terbuka pada
ujungnya  pada  umumnya  menunjukkan  taraf  perkembangan  yang  belum
sempurna,  dalam  arti,  dalam  sikap  sehari-hari  belum  terlihat  kematangan  dan
belum dapat membedakan antara diri dan lingkungan.
Mahkota, menggambarkan aktivitas atau proses-proses yang berhubungan dengan
ratio,  intelek.  Mahkota  dapat  digambar  tertutup  maupun  terbuka.  Perlu
diperhatikan perbandingan antara lebar dan tinggi mahkota depan panjang batang.
Kadang-kadang  mahkota  diisi  dengan  dahan  yang  terpencar  tak  beraturan,
mahkota disini dengan coretem atau mahkota yang kosong.
3.  Tes Warteg
Yang  diterangkan  dalam  makalah  ini  adalah  versi  Kinget.  Tes  Warteg  agak
berbeda dengan Tes Gambar Orang dan  tes Pohon karena bersifat  lebih obyektif,
dalam arti dapat dikauntifikasi, namun juga dapat dilakukan interpretasi kualitatif.
Tes  Wartegg  berbentuk  setengah  halaman  kertas  folio,  dicetak,  ada  8  kotak
dengan  masing-masing  satu  tanda  yang  berlainan,  kotak-kotak  dilingkari  garis
hitam tebal.
Persyaratan tes  :  1 lembar tes Wartegg
1 pinsil HB
Alas yang keras dan licin
Penghapus (kecuali untuk tes kelompok)
Instruksi:
Pada  lembar  ini anda melihat 8 kotak. Dalam  tiap kotak ada  tanda kecil. Tanda-
tanda ini tidak mempunyai arti khusus. Tanda-tanda ini hanya merupakan bagian-
bagian  dari  gambar-gambar  yang  anda  harus  gambar  dalam  tiap  kotak.  Anda
boleh menggambar apa saja dan boleh dimulai dengan tanda yang paling disukai.
Anda  tidak  perlu  mengikuti  urutan  dari  tanda-tanda  ini  tetapi  anda  diminta
mencantumkan  angka  pada  gambar-gambar  yang  dibuat  secara  berurutan. Anda
boleh bekerja menggunakan penghapus tetapi janganlah memutar kertas.
Baru setelah subyek selesai mengambar,  ia diminta untuk menulis apa saja yang
digambarnya.  Sebelumnya  tidak  diberikan  instruksi  untuk  menghindari  sugerti
bahwa harus berupa lukisan.
Sejak  subyek menerima  kertas  perlu  dilakukan  observasi  tentang  apa  komentar,
apakah banyak pertanyaan, bagaimana pendekatannya terhadap tes dan bagaimana
pelaksanaannya.
Prinsip interpretasi.
Untuk dapat membuat  interpretasi  terhadap hasil  tes  ini, perlu dipahami  terlebih
dahulu hal-hal sebagai berikut.
Tes  ini mula-mula dikembangkan Krueger dan Sander dari University of Leipzig
dengan latar belakang Ganzheit Psychologie. Kemudian dikembangkan oleh Ehrig
Wartegg  dan  kemudian  oleh  Marian  Kinget.  Tujuannya  adalah  eksplorasi
kepribadian dalam  istilah fungsi-fungsi dasar yaitu: emosi,  imajinasi, dinamisme,
kontrol, reality function, yang ada pada semua orang namun dengan intensitas dan interelasi  yang  berbeda.  Struktur  kepribadian  tidaklah  statis,  berubah-ubah  dan
menentukan  sebagian  besar  perilaku  individu.  Maka  tehnik  eksplorasi  juga
melihat cara subyek berfungsi, yaitu apakah normal ataukah abnormal. Maka bila
1  atau  beberapa  komponen  sangat  dominan,  berarti  bahwa  struktur  tidak
seimbang, jadi fungsi subyek adalah defektif. Misalnya, fungsi kontrol terlalu kuat
maka perilaku  akan  terhambat,  sedangkan bila  imajinasi berkembang berlebihan
maka kontak dengan realitas dan fungsi sosialnya terganggu.
Nilai  diagnostik  terutama  terletak  pada  kemampuan  pemeriksa.  Pertama  perlu
dilihat  apakah  administrasi  tes  sudah  benar,  kedua,  apakah  subyek  mengerti
instruksi yang diberikan? Ketiga,  apakah psikolog  yang membuat penilaian baik
kuantitatif maupun kualitatif menguasai sistem penilaian?.
Dalam  penilaian/analisis,  tiap  elemen  harus  dipertimbangkan  dalam  konteks
seluruh gambar dengan memperhitungkan:
Usia,  jenis  kelamin,  taraf  pendidikan,  pekerjaan  dan  mungkin  latar  belajang
budaya subyek.
Dalam melakukan interpretasi ada 3 tahap yang harus dilakukan yaitu:
1.  Stimulus  Drawing  Relation,  yaitu  bagaimana  hubungan  antara  rangsang
dengan  gambar  yang  dibuat.  Apakah  rangsang  merupakan  bagian  dari
gambar atau terlepas dari gambar? SDR merupakan dasar untuk eksplorasi
struktus persepsi dan afektivitas.
2.  Vontent  atau  Isi,  merupakan  manifestasi  dari  asosiasi  bebas.  Gambar
mempunyai  isi  apabila mewakili  sebagian dunia  fisik  yang  dapat  dilihat. Manifestasi  asosiasi  bebas mengungkapkan  pandangan  ke  orientas  yang
lebih  kuat  dari  kecenderungan-kecenderungan,  minat  dan  pekerjaan
subyek dan ini merupakan sumber data proyektif tes.
3.  Execution (pelaksanaan)
Bagaimana gambar dibuat? Penuh, kosong?
Adakah ekspansi?
Tes  Warteg  mencoba  untuk  mencari  tahu  pola  reaksi  yang  permanen  dari
kepribadian  si  penggambar.  Dari  penilaian kuantitatif  dapat  dibuat  suatu  profil
kepribadian dalam istilah fungsi-fungsi yaitu emosi, imajinasi, dinamisme, kontrol
dan reality function yang ada pada tiap manusia.
Demikianlah sekilas uraian tentang beberapa tes grafis, semoga dapat mendorong
mahasiswa psikologi untuk mempelajarinya secara lebih mendalam. Kepustakaan :

1.  Diktat Psikodiagnostik-Tes Pohon
1986-Penyusun Hanna Widjaja.
2.   Diktat Tes Wartegg-G. Mariam Kinget, Ph.D.
1991-Alih Bahasa-Hanna Widjaja
3.   Gambar Orang-Karen Machover
1985-Alih Bahasa- Hanna Widjaja
4.   Psychological Testing


Leave a Reply

:hihi: :hiks: :melet: :nangis: :ngakak: :puyeng: :sip: :sliwer2: more »